Wednesday, 15 May 2013

Deburan Rasa

Biarlah deburan pasir hilang bersama angin
Biarlah sejenak melupa waktu
Jejak-jekak rasa yang ditinggal
Tak mengubah apapun
Tetap berdiri tegak tegar
Tak layu diterpa haus kering kemarau
Karena aku bukanlah sebuah puing yang mudah rapuh

Sunday, 30 September 2012

Laugh a Dream

Fly with a dream
Just it I can live
All laugh see at me as a crazy
Sad?
No! what for?
I amazing because my dream
Anyone who laugh a dream
He is who crazy exactly

Wednesday, 19 September 2012

Menunggu

kutulis semua hidupku dengan penaku
satu satu terhapus olehNya
tapi tak ada puas yang kudapat
lelah?
tidak selama udara bisa kurasakan
dibalik semuanya ku tunggu setia
kutulis Dia yang menghapus
jalan kutempuh sendiri
sampai kutemui yang bisa menemaniku
kapankah?
tak tau, yang pasti kukan selalu menunggu
melihat bunga itu belum merekah
bahkan bakal kuncup pun masih bersembunyi
bersama bunga itu aku akan selalu menunggu.

Kunci Hati

sakit tak tersentuh
sesak karena mata
ku simpan erat
hanya aku yang tahu

kukunci kuat
agar tak satupun yang tahu
karena tak mungkin
tak ingin mengakui

dosa kan tertulis
dilema itu menghampiri selalu
ku hapus bayang mu dengan keyakinanku
ku tak bisa bersamamu

Sunday, 16 September 2012

Sadarlah


Sadarlah
Beribu asa menghampiri
Saat semua tersibuk akan diri
Egoisme jati diri
Lupa akan asal diri

Tak da lagi rasa kasih
Sedikit terselubung dalam hati
Tidak kah semua akan pergi tak tersisa?
Tapi kau senang berbangga
Bangga yang membuatmu kosong melompong tak berharga

Sadarlah
Dunia tak kan bisa kau genggam
Dengan tangan kotor  hitam pekat
lihatlah disekeliling mu itu
pantaskah kau menggenggam nya?

Monday, 10 September 2012

Istiqomah


“jadi seperti ini ya posisi nya, kita harus kerja sama, kita harus tolong menolong antara satu dan lainnya, ga mau kan salah satu dari kita tidak lulus?”
“yaaaa!!!”
Riuh kelas membahas ‘strategi’ untuk menghadapi  ujian yang akan menentukan masa depan, semua bersemangat mencari stretegi untuk bisa berkomunikasi saat ujian ‘monster’ itu datang, dengan dipimpin oleh dua orang yang memang memprovokasikan siasat licik ini, satu sebagai jurubicaranya dan satunya lagi menggambarkan strategi yang akan dilakukan dipapan tulis, hanya Anes yang tidak bersemangat dengan pembicaraan ini.
“nes bagaimana denganmu? Kamu diam saja selama pembicaraan ini, apa kamu tidak mau bekerja sama dengan kami?”
“bukan, aku..”
“kita semua tahu kamu itu memang tidak pernah menyontek dan memberi jawaban saat ulangan maupun ujian, tapi untuk sekali ini saja kami minta kerja sama mu, hilangkan egoismu untuk sementara!”
Seketika itu juga semua mata memandangku, tatapan penuh penghinaan, seperti melihat seorang buronan penjara yang telah lama dicari. Perkatan Inka sangat menyakitkan hati Anes, egois? Apakah Anes egois? Karena tidak ingin bekerjasama untuk meberikan contekan?
“iya nes kita kan sudah 2 tahun bersama di kelas ini, tunjukin dong rasa solidaritas mu, kalo memang kamu peduli sama teman!”
“sudahlah hilangkan dulu pelitmu itu! Pintar percuma kalo pelit berbagi!”
Hujatan begitu banyak dilontarkan pada Anes, Anes terlihat seperti terdakwa yang bersalah yang dijatuhi hukuman oleh hakim. Anes memang anak yang pintar dikelas nya dia juga selalu membantu temannya yang kesulitan untuk memahami pelajaran, teman-temanya sangat menyukainya, tapi saat ulangan Anes akan menjadi seorang yang sangat dikucilkan, karena ia tak pernah menyontek dan memberikan contekan untuk teman-temannya. Semuanya bertanya padanya mengapa ia bersikap seperti itu, Anes menjelaskan bahwa itu sudah menjadi prinsipnya. Prinsip yang mungkin teman-temanya tidak mengerti dan menyukainya.
******
“eh fit nanti kita kerjasama ya, ulangan kali ini saya belum baca seluruhnya”
Tak ada jawaban dan tak ada anggukan hanya senyum yang dijawabnya. Dulu Anes bukan seorang yang berprinsip tidak menyontek dan memberi contekan, saat ulangan dia akan mencari orang yang pintar untuk ‘bekerjasama’ dengannya, itu taktiknya untuk memperoleh nilai yang besar. Tapi saat ia bertemu Fitri di SMA ia menjadi berubah, saat awal Anes bertemu dengan Fitri, pandangan Anes padanya sangat negatif, ia memandang fitri sebagai orang yang pelit dan tidak bisa untuk diajak kerja sama (pada saat ulangan), tapi pandangan tersebut perlahan berubah, Anes semakin dekat dengan Fitri dan ia merasakan hal yang berbeda dengan teman-teman yang telah dijumpainya selama ini. Ia mulai mengikuti kegiatan yang sama dengan Fitri, dan melalui kegiatan itulah ia seperti menemukan sebuah cahaya terang yang menentramkan hatinya, yaitu keputrian sebuah kegiatan yang diadakan para akhwat DKM disekolahnya. Disana ia bertemu semua wanita berekerudung, berhijab dengan syar’i sangat bercahaya, teduh, indah dan cantik dilihat, sedangkan hanya dia yang tidak menutupi rambutnya sama sekali. Perlahan Anes pun bertekad untuk menutupi rambutnya, menutupi auratnya. Ia berubah menjadi menggunakan seragam panjang dan berkerudung, ia merasakan ketentraman dan kesejukan dalam hatinya, awal ia berfikir memakai baju panjang menutup seluruh aurat dan berkerudung itu akan membuatnya gerah, tapi ternyata ia salah besar, pakaian yang menutup aurat ternyata melindungi tubuhnya dari panasnya matahari, dan ia pun mulai mengerti akan perintah Alloh untuk menutupi aurat dan bagi wanita adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan, adalah untuk melindungi wanita, serta memuliakan wanita. Saat Anes menutupi auratnya, tak ada lagi teman laki-lakinya yang menggodanya yang ada memberi salam. sungguh Alloh sangat memuliakan wanita. Dan sekarang ia pun mengetahui mengapa Fitri tak pernah menyontek dan memberikan contekan saat ulangan.
“bu saya mau tanya kalo bekerjasama saat ulangan apakah berdosa?”
“tentu, menyontek dan memberikan contekan dua-duanya berdosa.”
“jadi jika kita memberikan contekan kita juga berdosa?”
“iya tentu berdosa, karena kamu sudah membuat temanmu itu menjadi bodoh dan berbohong.”
“bodoh, berbohong ? Kenapa?”
“dengan kamu memberikan jawaban disetiap ulangan, kamu mengajari nya malas untuk berfikir, dan belajar, dan malas itu sangat tidak disukai oleh Alloh, dan karena temanmu tidak menjawab soal ulanganya sendiri itu sama saja kamu membantunya untuk melakukan kebohongan”
Mulai saat itu Anes tidak lagi bekerjasama saat ulangan. Teman-temannya menjadi banyak yang tidak menyukai perubahannya itu. Anes pun merasa sedikit terbebani saat teman-temanya mulai menjauhinya.
“fit, rasanya saat aku berubah teman-temanku mulai menjauhiku”
“sabar, itu ujian untukmu”
“ujian?”
“ya, Alloh sedang mengujimu, apakah kau akan tetap istiqomah, disaat satu-persatu teman mu menjauhi mu atas perubahanmu ini, apa kah kau lebih memilih dijauhi Alloh ataukah dijauhi teman-temanmu.”
“iya betul fit, saat aku tak memberikan contekan saat ulangan, teman-temanku semua menjauhiku.”
“itu karena mereka tidak tahu hakikat kejujuran, ulangan yang terpenting bukan nilai, tapi prosesnya, jika prosesnya saja dia sudah tidak jujur, dengan menyontek, maka hasilnya akan tidak baik.”
“iya kau benar Fit, aku beruntung bisa berteman denganmu.”
“alhamdulillah Alloh mempertemukan kita ukh.”
“alhamdulillah.”
******
Dua mobil polisi terlihat terparkir di depan halaman sekolah, nampak ada empat orang polisi membawakan berkas yang dikunci erat oleh gembok. Semua sudah tahu berkas apa itu, yaitu ‘monster’ yang akan kami semua hadapi besok. Semua menatap kearah berkas yang dibawa polisi itu. Wajah-wajah gugup, cemas terlihat diwajah anak-anak kelas 3.
“ingat posisi dan sandi kita yaaa kawan-kawan, kita harus lulus semuaa, siaaaap!!”
“siaaaaaap!”
Seperti biasa kelas Anes membahas taktik untuk melawan ‘monster’ yang besok akan dihadapi, tapi tiba-tiba seorang guru memasuki ruang kelas, yang tidak lain adalah wali kelasnya.
“gimana anak-anak sudah siap menghadapi ujian besok?”
“siaaap pak”
“oke , bapak hanya mengingatkan, besok bermain lah yang ‘cantik’, karena besok yang mengawasi adalah langsung dari Diknas, kalau ada yang ketahuan berbuat curang maka kamu akan segera tidak diluluskan, jadi berhati-hatilah dan bermainlah yang cantik.”
“iyaaa pak!”
“dan untuk yang mempunyai kelebihan (pintar) bantulah teman mu yang kurang, mengerti?”
Semua menatap kearah Anes, lagi-lagi dengan tatapan penuh kebencian. Tak hanya teman-teman dikelas yang memaksa Anes untuk ‘kompak’ saat menghadapi ‘monster’ itu. Haruskah? Haruskah aku melakukanya? Anes bertanya-tanya pada dirinya, mulai goyah dengan pendiriannya, akhirnya ia berjalan keluar dari kelasnya, tak sadar kakinya sudah membawanya ketempat yang paling disenanginya disekolah yang selalu membuatnya tenang, ya masjid disekolahnya, putih bersih, tidak terlalu besar, tapi disanalah ia banyak mendapatkan ilmu tentang agamanya, agama islam, yang selalu membuatnya nya merasa nyaman. Ia duduk didekat etalase yang didalamnya banyak buku-buku agama. Seketika air mata Anes terjatuh.
“ya Alloh apa yang harus aku lakukan? Aku bingung, bantulah aku ya Alloh agar bisa istiqomah dijalanMu.”
Tiba-tiba seorang ukhti datang dengan jilbab yang khas panjang rapih, membuanya terlihat anggun dan cantik, tidak lain teman yang sangat Anes cintai, Fitri, seketika ia merangkul Anes dan menguatkannya.
“ada apa ukhti? Kenapa kamu menangis?”
“aku bingung fit semua menyuruhku untuk melepaskan prinsip ku ini.”
“jangan bingung, tanya pada hatimu, hatimu tidak pernah berbohong padamu, ikuti kata hatimu, dengar ukhti kau tidak sendiri, aku pun seperti itu, semua menyuruhku meninggalkan kejujuran ku, tapi aku, aku tidak akan membiarkan diriku untuk melakukan nya, karena kau tahu jujur itu salah satu gelar yang dimiliki Rasulullah, panutan kita, teladan kita. Namamu Anes kan?”
Anes menyeka air matanya dan terlihat bingung dengan pertanyaan fitri, mengapa tiba-tba menanyakan namanya? Bukankah dia sudah tahu, bukan tahu lagi bahkan mengenalnya, hanya sebuah anggukan yang dijawab Anes.
“kamu tahu Anes itu artinya apa?”
“tidak, aku tidak pernah menanyakanya pada orang tuaku.”
“Anes itu jujur.”
“kok bisa?”
“itu bahasa inggris, masa kamu tidak tahu ukhti”
“oalaaah itu kan HONEST”
“kan dibacanya Anes heheheh”
“bisa saja kamu fit”
Senyum pun terlihat kembali diwajah Anes, gurauan fitri tentang namanya membuatnya sedikit terhibur, tapi Anes berfikir itu bukan sekedar gurauan dan ada benarnya bahwa mungkin arti dalam namanya adalah jujur. Ia pun memutuskan untuk tetap teguh pada prinsipnya.

THE END